Hari ini (beberapa bulan sebelum anda membaca tulisan ini), saya mengikuti kelas Studi Media, yang sedikit menyinggung pembahasan mengenai feminisme. Istilah yang selama ini sering dianggap “cool” karena bernilai intelektual tinggi, atau mungkin hanya dibahas oleh orang-orang yang notabene punya daya intelektual tinggi, kritis, atau justru menjadi suatu narsis intelektual seseorang, suatu golongan, suatu jurusan dalam institusi pendidikan , atau suatu konsentrasi dalam jurusan (let’s say “ anak media”- di Mankom). Hantu “feminisme” (saya menyebut hantu karena saya masih menganggap term ini abstrak, mengawang-awang, krn belum dapat enlightment/aufklarung/pencerahan “what is feminism actually?”) ini katanya…suatu paham yang selanjutnya merupakan gerakan berlatarbelakang studi cultural yang membahas tentang isu-isu gender.
Gender gak sama dengan sex, yang selalu dihubungkan dengan –maaf—alat kelamin wanita atau pria, tetapi lebih kepada konstruksi sosial yang terbentuk tentang sifat kewanitaan atau kepriaan seseorang. Anda dapat menyebut seseorang ‘perempuan’ karena ia memakai rok, berambut panjang, memakai aksesoris-aksesoris cantik, dsb. Anda dapat mengidentifikasi seseorang itu “perempuan” dengan ciri2 konvensional yang disepakati secara social.
Apa iya perempuan itu selalu menjadi “objek” termasuk dalam media? Let’s say dalam segala sesuatu yang berkaitan dengan sensualitas, eksploitasi tubuh, dsb. Atau jangan-jangan saat ini karena terbentuknya konstruksi “women is object”, perempuan dengan kesadaran tinggi, keikhlasan dan sukarela, membiarkan atau justru memang membentuk semua itu memang nyata, lewat kesediaan mereka menjadi objek?
Ngomong soal sensualitas, kalo para laki-laki di majalah dewasa yang telanjang dada mempertontonkan otot dan ketampanan, bukankah mereka juga bias dikatakan objek oleh media? Tetapi, mungkin konstruksi social atas atas makna kekuatan laki-laki memang sudah mengakar, atau tidak cukup populernya maskulinitas di mana seharusnya para laki-laki juga membela haknya yang tereksploitasi tidak sekuat oposisinya (feminisme) ?
Saya pribadi cukup mengikuti berbagai pemberitaan, program acara di media massa yang mengangkat perempuan sebagai objeknya. Dari mulai iklan yang menghadirkan wanita sebagai daya tarik dengan keindahan tubuhnya, acara-acara ‘dewasa’ yang menhadirkan cerita-cerita dan ilustrasi penuh dengan perempuan (kasarnya ‘eksplore’ wanita), hingga berita-berita mengenai aborsi, pemerkosaan, pelecehan seksual,yang kesemuanya selalu menghadirkan perempuan sebagai objeknya. Misalnya berita-berita tentang aborsi illegal yang mengedepankan kebiadaban seorang perempuan yang membunuh calon bayinya, sehingga seolah perempuan itu mendapat kesan jahat, tanpa ada pembahasan sejauh mana pria bertanggungjawab atas keadaan itu juga.
Dari sini, saya bertanya-tanya, apakah saat ini media massa juga telah memiliki gender, yang kemudian seolah mendiskriminasi gender lawannya (perempuan). Ataukah ‘hegemoni cultural’ yang telah mengakar di mana perempuan adalah ratu, symbol keindahan, telah membuai kaum perempuan sendiri sehingga tanpa disadari sebenarnya perempuanlah yang mengeksploitasi diri mereka sendiri? Lalu, banyaknya pemberontakan dari kaum perempuan dengan mengatasnamakan ‘emansipasi’ yang dicetuskan oleh Ibu Kartini, apakah bentuk resistensi ini telah cukup kuat bagi perempuan untuk tidak tergantung kepada laki-laki, atau justru kerapuhan dalam menghadapi berbagai tantangan ini justru kembali membuat perempuan selalu meminta pengakuan dan penghargaan dari laki-laki, yang secara tidak sadar tetap mewariskan ketergantungan perempuan terhadap laki-laki.
Kasus-kasus pemerkosaan, pembunuhan yang diberitakan di media massa seringkali dianggap suatu rekayasa konflik antara laki-laki yang direpresentasikan sebagai pelaku dan perempuan sebagai korban, di mana media massa sebagai juri yang mempunyai kekuasaan membentuk ending cerita konflik ini, yang seringkali mengambang, manakah yang ‘real’ dan manakah yang merupakan representasi dari realitas cerita itu yang kemudian menjadi keadaan yang ‘hiper-real’.
Konstruksi media massa terhadap citra perempuan memang telah sukses membuat perempuan-perempuan meng-iya kan citra tersebut, dan memelihara serta melestarikan citra tersebut lewat eksploitasi terhadap diri mereka sendiri, Intinya, bisa ngga media netral gender, dan wanita, atau lebih tepatnya perempuan (tuh kan, saya juga sudah terkonstruk lewat perbedaan term ini, hehe..), lebih cerdik dalam melakukan resistensi terhadap segala hegemoni cultural ini???
Inget aja…perempuan = ibu = sacral..bener ga??? Makasih ya Ibu Kartini..tapi kayaknya perlu kali yah ada Kartini baru yang bikin ‘emansipasi’ dalam melawan konstruksi media bahwa perempuan itu BUKAN objek…
Tulisan ini penuh ke-otodidak-an…mohon dimaklumi…